KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIKA

Kemampuan Pemahaman Matematika
Kemampuan pemahaman matematis adalah salah satu tujuan penting dalam pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan kepada siswa bukan hanya sebagai hafalan, namun lebih dari itu dengan pemahaman siswa dapat lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri. Pemahaman matematis juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang disampaikan oleh guru, sebab guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai konsep yang diharapkan. Hal ini sesuai dengan  Hudoyo yang menyatakan: “Tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami peserta didik“. Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa siswa kepada tujuan yang ingin dicapai yaitu agar bahan yang disampaikan dipahami  sepenuhnya oleh siswa.
Pemahaman merupakan terjemahan dari istilah understanding yang diartikan sebagai penyerapan arti suatu materi yang dipelajari. Lebih lanjut Michener menyatakan bahwa pemahaman merupakan salah satu aspek dalam Taksonomi Bloom. Pemahaman diartikan sebagai penyerapan arti suatu materi bahan yang dipelajari. Untuk memahami suatu objek secara mendalam seseorang harus mengetahui: 1) objek itu sendiri; 2) relasinya dengan objek lain yang sejenis; 3) relasinya dengan objek lain yang tidak sejenis; 4) relasi-dual dengan objek lainnya yang sejenis; 5) relasi dengan objek dalam teori lainnya.
Ada tiga macam pemahaman matematik, yaitu : pengubahan (translation), pemberian arti (interpretasi) dan pembuatan ekstrapolasi (ekstrapolation). Pemahaman translasi digunakan untuk menyampaikan informasi dengan bahasa dan bentuk yang lain dan menyangkut pemberian makna dari suatu informasi yang bervariasi. Interpolasi digunakan untuk menafsirkan maksud dari bacaan, tidak hanya dengan kata-kata dan frase, tetapi juga mencakup pemahaman suatu informasi dari sebuah ide. Sedangkan ekstrapolasi mencakup estimasi dan prediksi yang didasarkan pada sebuah pemikiran, gambaran kondisi dari suatu informasi, juga mencakup pembuatan kesimpulan dengan konsekuensi yang sesuai dengan informasi jenjang kognitif ketiga yaitu penerapan (application) yang menggunakan atau menerapkan suatu bahan yang sudah dipelajari ke dalam situasi baru, yaitu berupa ide, teori atau petunjuk teknis.
Bloom mengklasifikasikan pemahaman (Comprehension) ke dalam jenjang kognitif kedua yang menggambarkan suatu pengertian, sehingga siswa diharapkan mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan. Dalam tingkatan ini siswa diharapkan mengetahui bagaimana berkomunikasi dan menggunakan idenya untuk berkomunikasi. Dalam pemahaman tidak hanya sekedar memahami sebuah informasi tetapi termasuk juga keobjektifan, sikap dan makna yang terkandung dari sebuah informasi. Dengan kata lain seorang siswa dapat mengubah suatu informasi yang ada dalam pikirannya kedalam bentuk lain yang lebih berarti.
Ada beberapa jenis pemahaman menurut para ahli yaitu:
  1. Polya, membedakan empat jenis pemahaman:
    1. Pemahaman mekanikal, yaitu  dapat mengingat dan menerapkan sesuatu secara rutin atau perhitungan sederhana.
    2. Pemahaman induktif, yaitu dapat mencobakan sesuatu dalam kasus sederhana dan tahu bahwa sesuatu itu berlaku dalam kasus serupa.
    3. Pemahaman rasional, yaitu dapat membuktikan kebenaran sesuatu.
    4. Pemahaman intuitif, yaitu dapat memperkirakan kebenaran sesuatu tanpa ragu-ragu, sebelum menganalisis secara analitik.
  1. Polattsek, membedakan dua jenis pemahaman:
    1. Pemahaman komputasional, yaitu dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana, atau mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja.
    2. Pemahaman fungsional, yaitu dapat mengkaitkan sesuatu dengan hal lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
  1. Copeland, membedakan dua jenis pemahaman:
    1. Knowing how to, yaitu dapat mengerjakan sesuatu secara rutin/algoritmik.
    2. Knowing, yaitu dapat mengerjakan sesuatu dengan sadar akan proses yang dikerjakannya.
  1. Skemp, membedakan dua jenis pemahaman:
    1. Pemahaman instrumental, yaitu hafal sesuatu secara terpisah atau dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana, mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja.
    2. Pemahaman relasional, yaitu dapat mengkaitkan sesuatu dengan hal lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
Pemahaman instrumental diartikan sebagai pemahaman konsep yang saling terpisah dan hanya hafal rumus dalam perhitungan sederhana. Dalam hal ini seseorang hanya memahami urutan pengerjaan atau algoritma. Sedangkan pemahaman relasional termuat skema atau struktur yang dapat digunakan pada penjelasan masalah yang lebih luas dan sifat pemakaiannya lebih bermakna.
Sedangkan pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap konsep matematika menurut NCTM (1989 : 223) dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam:  (1) Mendefinisikan konsep secara verbal dan tulisan; (2) Mengidentifikasi dan membuat contoh dan bukan contoh; (3) Menggunakan model, diagram dan simbol-simbol untuk merepresentasikan suatu konsep; (4) Mengubah suatu bentuk representasi ke bentuk lainnya; (5) Mengenal berbagai makna dan interpretasi konsep; (6) Mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal syarat yang menentukan suatu konsep; (7) Membandingkan dan membedakan konsep-konsep.
Pemahaman matematis penting untuk belajar matematika secara bermakna, tentunya para guru mengharapkan pemahaman yang dicapai siswa tidak terbatas pada pemahaman yang bersifat dapat menghubungkan. Menurut Ausubel bahwa belajar bermakna bila informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa sehingga siswa dapat mengkaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimiliki. Artinya siswa dapat mengkaitkan antara pengetahuan yang dipunyai dengan keadaan lain sehingga belajar dengan memahami.
DAFTAR PUSTAKA
NCTM. (1989). Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics. Reston, VA : NCTM
Hudojo, Herman. (2003). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. JICA. Universitas Negeri Malang
Hudoyo, Herman. (1985). Teori Belajar Dalam Proses Belajar-Mengajar Matematika. Jakarta. Depdikbud.

Artikel ini diambil dari : https://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/kemampuan-pemahaman-matematis/

IPM PATUT DIUNGGULKAN

Tidak dapat di pungkiri dua organisasi ortonom ini saling mengadu eksistensi dikalangan para pelajar, bahkan meninjau dari beberapa sekolah yang berlabel muhammadiyah, masih banyak yang menggunakan sistem organisasi pelajar yang cenderung pada Organisasi Siswa Intra Sekolah,walaupun pada hakikatnya sama. tetapi IPM yang dulu di kenal sebagai IRM, tentu saja memilki perbedaan yang signifikan. Misalnya dilihat dari sudut pandang wilayah teritorial, IPM memiliki tingkatan yang lebih meluas dan menjangkau di bandingkan OSIS. tingkatan tersebut adalah :

1. Pimpinan Ranting yang meliputi sekolah-sekolah yang berlabel muhammadiyah.
2. Pimpinan Cabang yang meliputi kecamatan yang terdiri atas eksistensi ranting-ranting penyusunnya.
3. Pimpinan Daerah yang meliputi jangkauan kota maupun kabupaten yang terdiri atas eksistensi pimpinan cabang yang menyusunnya.
4. Pimpinan Wilayah yang mencakup jangkauan provinsi yang terdiri dari eksisitensi berbagai daerah.
5. Pimpinan Pusat yang mencakup seluruh jangkauan nasional di seluruh pelosok Indonesia.


IPM pada dasarnya berkisar pada pelajar bukan hanya pelajar dari Sekolah Menengah atas saja, melainkan meliputi Sekolah Menengah Pertama dan Mahasiswa pun ikut bergabung di IPM, setidaknya hingga berusia 24 tahun. Sehingga disinilah suatu keunikan dari sebuah nama organisasi otonom muhammadiyah ini.

Ditinjau dari dua aspek penentu keberhasilan suatu organisasi dapat di lihat dari sudut kualitas dan kuantitas sebagai berikut :

1. Segi kualitas
Aktivis yang ikut bergabung di IPM mulai dari ranting hingga pusat, merupakan orang-orang yang kritis dan berwawasan luas. Mereka mencoba menjadi seorang akademisi tanpa meninggalkan namanya sebagai akitivis.
2. Segi kuantitas
Melihat gejala yang terjadi pada pelajar muhammadiyyah khususnya kota bandung dan umumnya pelajar muhammadiyah se-Indonesia, bukanlah menjadi konflik yang pelik bagi organisasi IPm untuk melebarkan sayap cakupannya di kiprahnya sebagai organisasi yang menangani dan bergerak pada kalangan pelajar.

Contoh TATA TERTIB PESERTA



TATA TERTIB PESERTA ORASI 2012
·        Tidak melakukan aktifitas lain yang dapat mengganggu berlangsungnya acara.
·        Hp di getarkan atau di silent selama kegiatan/acara berlangsung.
·        Memakai atribut dan peralatan yang telah ditentukan panitia.
·        Bersikap santun kepada sesama peserta dan panitia.
·        Menjaga kebersihan di mana pun berada ( tidak membuang sampah sembarangan terutama ditempat kegiatan ORASI).
·        Meminta izin kepada panitia ketika ingin keluar pada saat kegiatan/acara berlangsung.
·        Tidak diperbolehkan merokok atau mengkonsumsi zat aditif lain pada saat acara.
·        Apabila tata tertib ini dilanggar, maka panitia memberikan punishment bisa berupa menghapal vocab dan mufradat atau yang lainnya selama tidak melanggar hak asasi manusia.



maaf sebelumnya, ini adalah tata tertib ORASI UKM di UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SGD BANDUNG, jadi mungkin banyak perbedaan.


SKALA PENGUKURAN DALAM PENELITIAN

Ada empat tipe skala pengukuran dalam penelitian, yaitu nominal, ordinal,  interval dan ratio.

A. Skala Nominal

Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasikan obyek, individual atau kelompok; sebagai contoh mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis. Dalam mengidentifikasi hal-hal di atas digunakan angka-angka sebagai symbol. Apabila kita menggunakan skala pengukuran nominal, maka statistik non-parametrik digunakan untuk menganalisa datanya. Hasil analisa dipresentasikan dalam bentuk persentase. Sebagai contoh kita mengklaisfikasi variable jenis kelamin menjadi sebagai berikut: laki-laki kita beri simbol angka 1 dan wanita angka 2. Kita tidak dapat melakukan operasi arimatika dengan angka-angka tersebut, karena angka-angka tersebut hanya menunjukkan keberadaan atau ketidakadanya karaktersitik tertentu.
Contoh:
Jawaban pertanyaan berupa dua pilihan “ya” dan “tidak” yang bersifat kategorikal dapat diberi symbol angka-angka sebagai berikut: jawaban “ya” diberi angka 1 dan tidak diberi angka 2.

B. Skala Ordinal

Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
Contoh:
Jawaban pertanyaan berupa peringkat misalnya: sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju dan sangat setuju dapat diberi symbol angka 1, 2,3,4 dan 5. Angka-angka ini hanya merupakan simbol peringkat,  tidak mengekspresikan jumlah.

C. Skala Interval

Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karaktersitik antara satu individu atau obyek dengan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka. Angka-angka yang digunakan dapat dipergunakan dapat dilakukan operasi aritmatika, misalnya dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan analisa, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametric.
Contoh:
Jawaban pertanyaan menyangkut frekuensi dalam pertanyaan, misalnya: Berapa kali Anda melakukan kunjungan ke Jakarta dalam satu bulan? Jawaban: 1 kali, 3 kali, dan 5 kali. Maka angka-angka 1,3, dan 5 merupakan angka sebenarnya dengan menggunakan interval 2.

D. Skala Ratio
Skala pengukuran ratio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut. Nilai absoult nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur. Pengukuran ratio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu atau obyek tertentu dengan lainnya.
Contoh:
Berat Sari 35 Kg sedang berat Maya 70 Kg. Maka berat Sari dibanding dengan berat Maya sama dengan 1 dibanding 2.

PERTAMA DI INDONESIA, SumSel luncurkan Kuliah Gratis

umk acid


Minggu, 23 Agustus 2015, 20:24
PALEMBANG - Gubernur Sumsel Alex Noerdin meluncurkan program kuliah gratis yang akan diselenggarakan mulai tahun ajaran ini. Program itu merupakan yang pertama diselenggarakan pemerintah provinsi di Indonesia.  
Sebelumnya, Sumsel telah menggratiskan biaya Pendidikan dari tingkat SD hingga SLTA atau sederajat baik negeri atau swasta sejak 2008. Bahkan, khusus di Kabupaten Musi Banyuasin sudah dilakukan sejak 2002.
Kebijakan itu juga merupakan perwujudan janji Alex dan sang wakil Ishak Mekki saat kampanye dua tahun silam. Alex mengatakan, APBD yang dialokasikan sebesar Rp 50 miliar.
"Kami tidak menetapkan secara pasti berapa mahasiswa yang akan mendapatkan program kuliah gratis ini. Namun akan disesuaikan dengan anggaran awal terlebih dahulu. Ke depannya anggaran akan ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan kemampuan keuangan daerah," tutur Alex, Minggu (23/8).
Namun, Pemprov Sumsel jua menerapkan tiga syarat. Yakni, calon mahasiswa berasal dari keluarga yang tidak mampu secara finansial, lulus seleksi masuk, serta bukan perokok aktif..
"Tidak ada alasan bagi masyarakat Sumsel untuk tidak sekolah dan mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Semua biaya yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan akademis sudah disiapkan. Semua ini untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Sumsel," tutur Alex.
Pemprov Sumsel menggandeng Universitas di Korea Jeonju University dan Nanjing Polytechnich Institute Tiongkok untuk menjalankan program kuliah gratis tersebut.
Dari dalam negeri, Sumsel menggandeng Universitas Sriwijaya, Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah, Politeknik Sriwijaya, serta UIN Syarif Hidayatulah, Jakarta. (esy/jpnn)
www.jpnn.com

NEGARA TAK SERIUS FASILITASI PENDIDIKAN

Pemerintah dianggap masih tidak serius memfasilitasi pendidikan meski Indonesia sudah 70 tahun merdeka. (Foto: dok. Okezone)
JAKARTA 
- Tujuh dekade sejak kemerdekaan Indonesia, masih banyak masalah menghadang pendidikan di Tanah Air. Kondisi ini menunjukkan ketidakseriusan pemerintah memfasilitasi pendidikan.
Kordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) atau Network for Education Watch Indonesia (NEW Indonesia) Abdul Waidl, menjelaskan, salah satu masalah pendidikan yang masih belum terselesaikan adalah perihal akses.
"Saat ini akses pendidikan masih jauh dari harapan," kata Waidl dalam konferensi pers di Indonesia Corruption Watch (ICW), Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2015).
Seharusnya, kata Waidl, pemerintah memerhatikan akses pendidikan hingga 12 tahun atau hingga pelajar lulus dari bangku SMA. JPPI sendiri mendukung pelaksanaan wajib belajar 12 tahun karena bertalian erat dengan penguatan SDM menghadapi persaingan yang kian global di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
"Posisi kita sangat lemah dari bidang apa pun. Karena itulah, jenjang SMA menjadi salah satu syarat minimal agar SDM bisa bersaing di tingkat global," imbuhnya.
Waidl berharap, tidak hanya serius memfasilitasi pendidikan Tanah Air, negara juga bertanggungjawab melaksanakan wajib belajar 12 tahun, bukan hanya sembilan tahun. Guna mendorong penerapannya, September 2014 JPPI mengajukan uji materi atas UU Sisdiknas tentang wajib belajar ke Mahkamah Konstitusi. Namun hampir setahun berselang, kasus tersebut masih mengendap.
"Kami sudah mengirimkan surat agar bisa mempercepat sidang tapi belum ada kejelasan," imbuhnya.
Afriani Susanti (Jurnalis)

KIP (Kartu Indonesia Pintar) Beri Anak Bangsa Masa Depan Cerah

Ilustrasi: suasana belajar di sekolah. (Foto: dok. Okezone)
PONTIANAK - Kartu Sakti ala Presiden Joko Widodo menjadi program prioritas dalam peningkatan kesejahteraan. Salah satunya, Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang diharapkan memberi anak bangsa masa depan lebih cerah.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan mengatakan, KIP diberikan untuk membantu anak-anak supaya bisa meneruskan pendidikan dan bisa meraih masa depan yang baik.
"Dengan pemerintah memberikan KIP, insya Allah anak-anak kita nanti menjadi anak yang pintar untuk masa depan yang cerah. Karena itu, manfaatkan sesuai tujuannya, khususnya untuk kegiatan terkait pendidikan, ujar Anies kepada wartawan di Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2015).
Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menyatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan masyarakat yang berhak menerima Kartu Sakti. Setelah pendataan tuntas, hasilnya akan diserahkan kepada pemerintah pusat.
"Kami hanya menyerahkan datanya, jumlahnya nanti ditentukan oleh pemerintah pusat. Bagi kami, semakin banyak yang menerima semakin bagus," katanya.
Sutarmidji menambahkan, pihaknya akan mengusulkan 33 ribu penerima Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), 200 ribu lebih Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan sekira 30 ribu KIP. "Nanti kami usulkan dulu ke pemerintah pusat. Mudah-mudahan banyak yang disetujui untuk menerima Kartu Sakti itu," pungkasnya.
Dina Prihatini (Jurnalis)

SISTEM PEMERATAAN PENDIDIKAN

Jenjang pendidikan baik tingkat menengah pertama ataupun menengah atas, masih sangat di butuhkan sekali. Namun hanya sekolah favorit yang sangat di minati banyak orang. Bagi kalangan menengah ke bawah banyak halangan untuk menuju sekolah favorit atau sekolah yang berada Cluster I,salah satunya biaya. Bagi sebagian masyarakat tentunya kalangan yang kurang mampu (materi) itu menjadi hal yang kurang mungkin, mengingat boaya operasional yang harus dikeluarkan sangat besar bahkan ada beberapa sekolah menengah atas yang biayanya melebihi biaya universitas. Beberapa lulusan yang kurang mampu yang lulus tingkat SMP/SD mengaku tidak akan melanjutkan ke sekolah yang memerlukan biaya yang sangat besar dan akan memilih sekolah yang biasa dan biayanya terjangkau.
Hal ini pendidikan yang di alami masyarakat menengah ke bawah krang berkualitas. Nah dari sinilah masyarakat menengah ke bawah menjadi terbelakangi. Jenjang pendidikan yang harusnya bisa dinikmati oleh semua kalangan,ternyata khayalan belaka. Mahalnya biaya dapat membuat kalangan menengah ke bawahmengurung cita-citanya/memberhentikan pendidikan yang diinginkannya yaitu sekolah favorit yang berada di Cluster I paling tidak masuk ke Cluster II.Sebenarnya bukan seleksi saja yang meluluskan untuk bisa masuk ke sekolah favorit, tetapi mahalnya biaya yang menjadikan mundurnya tekad dan semangat belajar.
Mahalnya pendidikan justru akan melenggengkan panjajahan Kapitalisme di Indonesia sebab kunci utama keluar dari penjajahan menuju kebangkitan adalah peningkatan tariff berpikir umat. Pendidikan merupakan salah satu unsur penting taraf berpikir umat. (HTI Buletin Al-Islam Edisi 565)
Maka dari itu, perlunya ada sistem pemerataan pendidikan salah satu dengan cara :
  1. Pemerataan pendidikan (materi yang di berikan)
  2. Pertukaran guru-guru Negeri ke Swasta.
  3. Mengadakan pelayanan pendidikan yang berkualitas serta biayanya terjangkau untuk semua kalangan.
Tentunya banyak sekali hal yang harus lakukan agar pendidikan yang berkualitas sampai dirasakan semua kalangan.(Moch Iqbal Ayub A)

BASA SILOKA SASTRA

Mun di tilik tina carita wayang anu enggal ku urang dikupingkeun,tos teu asing deui ari lima pandawa mah.


Bapak pandawa nyaeta Prabu Kresna
Nagara Kresna nyaeta nagara Jenggala Manik
Jenggala asal kata tina jegala = begal anu hartosna Ngarebut (Merebut)
Manik nyaeta hideung upami di hartoskeun nyaeta Kulit hitam
nah ieu sifat nagara Amerika, bangsa AS geus pihariwangeun,ari nu sabenernamah orang amerika teh lain barodas tapi rada beureum jeung hideng.
Ieu ngagambarkeun suku di Amerika geus eleh ku bangsa Inggris


Aya lima Pandawa dina eta carita


  1. Darma kusumah atawa yudistira
Darma artina Saukur atawa asal-asalan
Kusumah = nafsu
nagarana ngarana Indraprahasta anu artina
Indra =panca indra
Pra = saacan
Hasta = gawe
Nah ieu ngagambarkeun nagara Jepang, Manehna hirupna sauukur nafsu ngan mihareup duit.(teknologi)
Tapi maranehna palinter kana teknologi tapi maranehna masih loba keneh nu nyembah panon poe.


    2. Bima 
ieu teh wancahan tina (BImbingan MAnusa)
nagarana Munggul pawenang nyaeta Ngan Ukur unggul pawenang anu artian ngan ukur unggul sorangan.
Ieu ngaibaratkeun nagara India, manehna boga cara Pangobatan anu hade beda jeung barat tapi teu loba dikenal ku nagara lain.
   
    3. Arjuna atawa janaka
janaka artina teu seurius / herey.
Nagarana ti madu kara
Madu = alus,bageur
kara = racun,goreng
jadi artina dina kaalusan(kabahagiaan) aya kasusah.
Ieu ngaibaratkeun nagara China ,lamun urang misalkeun gawe di Orang China heg dipercaya menta nanaon oge di bere lamun jang boros, tapi lamun jang usaha moal di bere.


    4. Nakula
Nagarana Sawa jajana asal kecap salwa jajr anu artina moal katinggaleun,atawa bisa saimbang.
Ieu ngagambarkeun nagara Korea Selatan manehna bisa nyieun mobil pedah teu loba dikenal


   5. Sadewa 
Asal nagara tina Buni Retnayu anu artina nutupan kasalahan awewe.
Ieu ngagambarkeun nagara Korea Utara , Geus loba ayeuna di nagara Indonesia awewe anu atos jadi jablay.

Debat di UIN SGD

Debat Agama
Berdasarkan perkiraan kasar, di dunia, orang beragama mengalami peningkatan. Diperkirakan, hanya 500 juta orang yang menolak agama dan adanya Tuhan. Secara kuantitatif, 2,1 miliar orang memeluk agama Kristen, 1,5 miliar memeluk Islam, 900 juta memeluk agama Hindu, 376 juta orang memeluk agama Buddha, 23 juta memeluk agama Sikh, dan jutaan orang lainnya mengikuti agama dan kepercayaan lain. Kenaikan pemeluk empat agama terbesar di dunia (Kristen, Islam, Hindu, dan Budha) naik dari 67% pada 1900 menjadi 73% pada 2005 dan diperkirakan meningkat menjadi 80% pada tahun 2050.
Pada 26 Januari 2012 diselenggarakan debat kandidat presiden dari partai Republik Amerika tentang pengaruh agama terhadap kebijakan. Debat terbuka ini selenggarakan oleh CNN di Jacksonville, Florida. Pertanyaan yang muncul ketika itu adalah, jika terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, apakah keyakinan agama mereka akan memengaruhi kebijakan dan keputusan sebagai presiden.
Salah satu kandidat presiden, Newt Gingrich, menjawab bahwa agama bukanlah sesuatu yang hanya terjadi pada hari Minggu. Agama tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. Sementara itu, kandidat lain, Ron Paul, menegaskan secara lantang bahwa agama tidak akan memengaruhi kebijakan kepresidenannya. Dia menyatakan,  sumpah jabatannya yang akan didahulukan dibanding keyakinan agamanya. Sementara itu, Rick Santorum dan Mitt Romney, menyatakan bahwa nilai-nilai agama, terutama Yahudi dan Kristen, telah menghiasi dan memengaruhi masyarakat Amerika sepanjang sejarah. Walaupun tidak akan menjadi prioritas dasar kebijakan, keadaaan keagamaan masyarakat akan menjadi bagian bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan.
Debat perihal agama yang diselenggarakan oleh CNN di atas mengisyaratkan bahwa agama merupakan bagian dari problem sosi-politik suatu masyarakat, termasuk di lingkungan bangsa Amerika yang mengedepankan nilai-nilai liberalisme. Agama yang dianut oleh para calon Presiden Amerika Serikat turut mempengaruhi elektabilitas mereka, selain visinya dalam memimpin negara. Bahkan, pada pemilu presiden yang lalu, terdapat kampanye kontroversial yang menyudutkan perihal keagamaan Barack Obama. Obama disudutkan dengan isue anti Tuhan. Obama segera tampil di muka umum dan menyatakan kepada publik Amerika bahwa dirinya penganut Katolik sejak kecil.
Walaupun doktrin-doktrinnya tidak terukur untuk kesejahteraan dan penyelesaian masalah masyarakat, namun agama masih merupakan salah satu faktor pendongkrak citra politik, bahkan kadang lebih penting dibanding faktor yang lainnya, seperti visi kebijakan luar negeri dan ekonomi. Agama masih memiliki pengaruh penting dalam kehidupan politik, di manapun, sekalipun di negara yang paling liberal di dunia dan didominasi oleh nilai-nilai kapitalistik.
Di saat dunia penuh dengan konflik, kelaparan, kemiskinan, buta huruf, dan ketidakstabilan ekonomi, secara konseptual agama mencoba menawarkan perlindungan bagi banyak orang. Dalam kapasitas dan batas tertentu, agama memberikan beberapa bentuk kesejahteraan sosial praktis untuk kesulitan keluarga lemah. Sistem-sistem jaminan sosial yang diajarkannya memberikan sedikit solusi terhadap permasalahan ekonomi yang menghimpit masyarakat.
Jutaan umat di duni masih melihat agama sebagai solusi untuk kemiskinan dan penindasan. Gagasan-gagasan yang diusung Hamas (Gerakan Perlawanan Islam) di Palestina dan Hezbollah  di Lebanon, sebagai contoh, mendapat sambutan jutaan orang di dua kawasan tersebut. Termasuk juga di Indonesia. Agama masih memiliki kekuatan pendorong terhadap keberpihakan politik masyarakat. Masyarakat masih memandang ada harapan solusi dalam agama.
Selanjutnya, efek politik suatu agama tidak bisa dianggap remeh. Pengaruh tersebut harus tetap menjadi perhatian para elit kekuasaan dan dampak sosialnya harus terus menjadi fokus perhatian negara. Dalam sejarah politik dunia, sentimen agama berhasil menggulingkan kekuasaan depostik di Iran, yaitu Shah Pahlevi, dalam kasus revolusi Islam tahun 1979. Hal ini mengandung arti bahwa agama memainkan peran dalam dinamika kekuasaan politik, lebih-lebih kekuasaan sosial. Bukan hal mustahil, suatu ketika agama di Indonesia akan menjadi pendorong yang kuat untuk terjadinya penggulingan kekuasaan. Sebab, pada dasarnya doktrin agama adalah pembebasan dari penindasan dan ketidakadilan, yang dua hal ini merupakan bagian dari fakta kekuasaan yang terjadi di banyak tempat. Pada masa Orde Baru, kekuatan agama terus-terusan dilokalisir supaya tidak liar dan menjadi kekuatan politik yang membahayakan kekuasaan. Aktivitas keagamaan tidak diberi ruang bebas, melainkan harus berada dalam kendali aparat keamanan. Memang terbukti, pemerintahan Orde Baru menghadapi serangkaian bentrok dengan kekuatan massa yang menjadikan issue agama sebagai dasar reaksi mereka.
Di lain sisi, daya pikat agama sangat tinggi bagi para politikus. Simbol-simbol agama merupakan bagian dari strategi politik dalam meraih suara. Dalam kasus pilkada, banyak calon pemimpin daerah yang menggunakan simbol-simbol dan citra agama dalam meraih dukungan massa. Berkunjung ke lembaga keagamaan dan menghadiri ritual-ritualnya merupakan bagian strategis yang dilakukan oleh para kontestan politik dalam rangka kampanye.
Ide dasar agama, pada dasarnya adalah tuntunan kerendahan hati, kejujuran, keberanian, dan cinta, walaupun sekarang lebih banyak hilang dari lingkungan kita yang mengaku beragama dari sejak kecil. Dalam sejarahnya, agama pernah berhasil mendorong manusia untuk mendapatkan kebebasan dan keadilan. Di negeri kita pun, atas nama agama, pernah terdapat sejumlah orang yang berhasil mengalahkan ego dirinya dalam memperjuangkan tanah air. Terdapat sejumlah pejuang kemerdekaan di Indonesia yang menjadikan agama sebagai basis perjuangan mereka tanpa memerdulikan keuntungan apa yang didapatnya setelah negeri ini merdeka.
Sekali lagi, agama tidak bisa kita anggap enteng. Permaslahan yang timbul dari hadirnya agama tidak bisa kita dudukkan sebagai kejadian yang sederhana. Selain itu, kita juga harus bisa melokalisir dan menekan bintik-bintik konflik agama, sebab akibat yang ditimbulkannya sangat berat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara negeri ini.
Dimuat pada Opini PR edisi Selasa, 07/02/2012

Anda Pengunjung ke :